Sabtu, 23 April 2011

Jangan Bergendang di Kelas, Kalau Tak Ingin Banyak Hutang

       Siang itu saya singgah di warung minuman untuk membeli es teler titipan putri saya. Sambil menunggu pesanan, tanpa sengaja saya mendengar percakapan dari beberapa orang yang asyik makan di sebuah meja.
"Ingat aku kata guru waktu sekolah dulu; janganlah kau suka bergendang bangku di kelas, Nak, nanti kalau besar banyak hutang. Eh, benar pula, sekarang tak putus hutangku. Satu belum selesai, sudah harus buka hutang lain. Ya, ampuuuun...pusing aku!"
      Tersenyum saya. Hm, bagus juga untuk disampaikan kepada siswa di sekolah besok, batin saya. Namun, untuk beberapa hari ternyata sempat terlupakan. Sampai akhirnya ketika saya hendak masuk ke kelas, masih di selasar, sudah terdengar suara anak-anak memukul bangku mereka sambil bernyanyi. Teringatlah akan pesan indah itu.
     "Siapa yang bergendang tadi?" tanya saya. Tentu saja tak ada yang mengaku, kecuali ingin mencari masalah.
     "Ibu punya cerita, dan ini sudah terbukti kebenarannya; barang siapa yang suka bergendang bangku di kelas, kelak besar nanti akan banyak hutangnya. Mau?"
     "Tidakkk...!" tiba-tiba ada suara keras menyahut dari arah bangku paling belakang. Siswa lain sejenak terkesima, sampai akhirnya riuh tertawa.
     "Ha, kamu rupanya. Ibu sih suka dengar musik kamu, sering-sering saja bergendang bangku. Iya?"
     "Nggak lagi, Bu."
     "Kenapa?"
     "Kata Ibu, nanti bisa banyak hutang. Kalau banyak rezeki sih mau, Bu."
Saya tersenyum. Nasihat "ringan" yang saya sampaikan di 4 kelas, maka dari 4 kelas itu juga saya tak mendengar lagi suara ribut para siswa memukul bangku bergendang saat tak ada guru. He,he,he... mereka takut punya banyak hutang!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar